BANDAR LAMPUNG — Lembaga Amil Zakat Abdurrahman Bin Auf (LAZ ABA) Lampung mengadakan Dauroh Zakat Maal yang dipusatkan di Hotel Nusantara Syariah Bandar Lampung pada Minggu, 7 April 2019. Dauroh itu mengusung tema “Zakat Maal Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Dhuafa” dengan pemateri inti yaitu Ustadz Abdun Nafi’, S.Pd.I., sebagai Dewan Syariah LAZ ABA Pusat.

Hadir dalam acara itu Direktur LAZ ABA Pusat, Ir. Suprihadi, bersama jajaran pengurus LAZ ABA KPP Lampung, serta pengurus pokja, dan tamu undangan dari kalangan donatur.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran oleh Andika, dilanjutkan sambutan Direktur LAZ ABA Pusat oleh Ir. Suprihadi.

Dalam sambutannya, Ir. Suprihadi mengatakan bahwa sebagai lembaga amil zakat sudah sepatutnya LAZ ABA memberi pemahaman kelimuan tentang zakat maal, peranan, dan urgensinya untuk pemberdayaan umat. “Potensi zakat maal di Lampung sangat tinggi dan belum tergali. Hal ini menjadi landasan bagi LAZ ABA untuk menghimpun zakat maal dengan maksimal. Maka, kami sengaja membekali para pengurus atau amil melalui Dauroh Zakat Maal agar menguasai seluk beluk zakat maal. Dengan pengelolaan zakat maal secara optimal, maka dapat mengentaskan kemiskinan di masyarakat,” ujar Supihadi.

Sementara itu, Ustadz Abdun Nafi’ selaku pemateri, memaparkan masalah harta dalam Islam dan syarat-syarat wajib zakat, jenis-jenis objek zakat, cara menghitung zakat dan lain-lain. Dengan gamblang Ustadz Abdun Nafi’ menyampaikan materinya.

Acara diskusi dan tanya jawab juga diadakan sesudah pemaparan materi Ustadz Abdun Nafi’. Para peserta dan tamu undangan sangat antusias mengajukan pertanyaan seputar zakat maal. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang tuntas dan jelas dari narasumber.

Seorang penanya, Kelik dari Kotabumi Lampung Utara menanyakan tentang zakat profesi, bagaimana cara menghitung zakatnya. Selain itu, dia juga bertanya tentang perbedaan fisabilillah dan amil zakat serta apa kriterianya.

Penanya selanjutnya, Rahmanto dari Mesuji Lampung bertanya kepada narasumber, bagaimana cara menghitung dan membayar zakat hasil perdagangan. Disusul dengan penanya lain, Ibrahim dari Lampung Timur, menyampaikan ada nelayan dengan penghasilan 1 juta sekali melaut, apakah hasil itu patut dizakati atau tidak.

Selain pendalaman ilmu, agenda dauroh juga diisi dengan pengenalan (launching) Program Zakat Berdaya dari LAZ ABA KPP Lampung. Untuk mengenalkan program baru tersebut, dihadirkan Ustadz Fathudin dari Medan yang sudah berpengalaman. Beliau menawarkan kepada peserta dan donatur untuk ikut ambil bagian dalam program baru yaitu Zakat Berdaya.

Zakat Berdaya LAZ ABA memfokuskan pada tiga program pemberdayaan mustahik yakni (1) Usaha Ternak Kambing untuk Dhuafa, (2) Bibit Pohon Kebaikan, dan (3) Gerobak Maslahat untuk Dhuafa. Dengan tiga program tsb diharapkan dapat membantu dhuafa agar terangkat ekonominya sehingga ke depan status mustahik dapat menjadi muzaki atau minimal munfik (penginfak).

Dauroh Zakat Maal berlangsung dengan sangat baik, tertib, dan lancar dengan mengedepankan kepuasan peserta. Dauroh ditutup oleh Direktur LAZ ABA, Ir Suprihadi pada pukul 16.30 dan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta. (*dw)

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *