Pemikiran ekonomi dalam Al Qur’an, bukanlah merupakan suatu konsep yang independen dan tidak berhubungan dengan prinsip bidang kehidupan yang lain, namun ia merupakan tuntunan hidup yang mendasar dalam aktivitas ekonomi dan bersifat saling terkait dengan pemikiran dimensi kehidupan yang lain.

Sebuah subsistem yang saling terkait dengan subsistem lainnya dalam kehidupan, baik pemikiran dalam bidang politik, sosial, budaya, ataupun etika kehidupan.

Pemikiran ekonomi merupakan salah satu pilar dari bangunan sistem kehidupan yang bersumber dari Al qur’an, sebuah konsep yang merupakan bagian dari sistem kehidupan yang komprehensif dan holistik. Sistem ekonomi tidaklah hadir dalam ruang kosong dan berdiri sendiri, namun ia akan saling terkait dengan subsistem kehidupan lainnya. Pemikiran ekonomi yang terdapat dalam Al qur’an akan senantiasa berhubungan dan saling menopang dengan subsistem kehidupan lainnya guna mewujudkan sebuah sistem kehidupan yang integratif. Tuntunan Islam yang tertuang dalam Al Qur’an merupakan way of life bagi kehidupan muslim, sebuah sistem kehidupan yang dapat diyakini sebagai ‘peta’ untuk menuju kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Sistem kehidupan Islam memiliki beberapa konsep dasar, prinsip, serta aturan yang bersifat global dan detil yang akan memberikan tuntunan bagi detil kehidupan mnusia. Aturan yang ada, bersumber dari Al qur’an sebagai sumber utama, serta hadist-hadist Nabi. Kedua sumber tersebut memberikan tuntunan dasar bagi kehidupan manusia, dan telah terbukti berhasil diterapkan dalam kehidupan Nabi dan kedua khalifah yang pertama.

Islam bukanlah konsep kehidupan yang bersifat statis, stagnan dan tidak bisa mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, namun prinsip kehidupan yang terdapat dalam Islam merupakan sebuah tatanan yang bersifat dinamis dan mampu bergerak untuk mengikuti dinamika kehidupan. Aturan Islam disinyalir mampu berfluktuasi seiring dengan perubahan zaman dan kebutuhan-kebutuhan akan sebuah pembaharuan, konsep Islam mampu untuk di-up grade sesuai dinamika kebutuhan manusia yang senantiasa berubah, memberikan solusi dan alternatif atas segala persoalan hidup manusia, tentunya tetap bersandar pada aturan dasar Islam. Adanya perubahan dalam dimensi kehidupan manusia, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial ataupun budaya, menuntut Islam untuk menghadirkan aturan dan rambu-rambu dasar dalam operasionalnya. Islam akan berinteraksi secara integratif dengan perubahan yang ada, dan selanjutnya akan mampu memberikan alternatif hukum dan aturan dasar yang harus diperhatikan oleh manusia. Hukum dan aturan Islam mempunyai elastisitas terhadap pembaharuan dan perubahan, ia akan bergerak secara linear dengan perkembangan dan dinamika kehidupan manusia, terdapat ‘korelasi positif’ antara aturan Islam dengan beragamnya perubahan dalam setiap dimensi kehidupan manusia.

Elastisitas aturan Islam semakin dituntut untuk hadir dalam kehidupan, seiring dengan munculnya peradaban baru yang hidup berdampingan dengan komunitas muslim. Peradaban tersebut membawa perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam setiap dimensi kehidupan, hadirnya fenomena ini memaksa aturan Islam untuk memberikan pernyataan sikap yang jelas terhadap perubahan. Dalam masyarakat muslim telah terjadi proses asimilasi budaya setempat dengan budaya baru, hasil dari ‘perselingkuhan budaya’ tersebut, menuntut adanya sikap yang tegas dari Islam, baik yang berupa hukum atau aturan dasar, maupun batasan-batasan yang harus diperhatikan. Dalam bidang ekonomi misalnya, aktifitas ekonomi dalam komunitas muslim telah terinfiltrasi dengan nilai-nilai kapitalis ataupun sosialis, sehingga menuntut Islam untuk menghadirkan sistem ekonomi alternatif yang dapat dijadikan sebagai pilihan, akhirnya muncul sistem ekonomi Islam atau prinsip dasar Islam dalam kegiatan ekonomi.

Prinsip dasar ekonomi yang terdapat dalam Al Qur’an hanyalah satu, namun ia bersifat universal. Dalam arti, semua masyarakat muslim harus mengikuti aturan tersebut dalam menjalankan aktivitas ekonomi, namun dalam tataran aplikasinya bisa mengambilkan kebijakan tertentu disesuaikan dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat. Untuk mengimplementasikan prinsip dasar ekonomi dalam Al Qur’an, bisa jadi berbeda antara satu negara dengan negara lain, hal itu dikarenakan terdapat perbedaan konteks ataupun situasi masyarakat yang melatarbelakanginya. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat muslim, yang paling penting adalah perlu dirumuskannya kaidah, konsep dasar, serta tujuan-tujuan yang harus dicapai sistem ekonomi Islam, tentunya hal itu bersumber dari hukum-hukum Islam yang bersifat kekal dan abadi. Untuk itu, diperlukan sebuah upaya dari intelektual muslim guna merekonstruksi persoalan dimaksud, dengan melakukan penelitian, kajian dan analisa teks-teks ekonomi yang terdapat dalam al Qur’an dan Hadist Nabi. Nilai-nilai yang mampu dikaji dari kedua sumber tersebut, diharapkan bisa bersenyawa dengan realitas yang ada, sehingga akan melahirkan peradaban baru dalam kehidupan manusia yang syarat dengan norma dan etika.

Sampai dewasa ini, terdapat dua mainstream sistem ekonomi yang diterapkan dalam kehidupan, yaitu sistem kapitalis dan sosialis, kemudian disusul oleh hadirnya sistem ekonomi Islam yang dijadikan sebagai salah satu alternatif. Dalam perjalanan sejarah, ideologi yang dibawa oleh sistem sosialis mengalami stagnansi dan tidak mampu menjawab perubahan zaman. Ideologi ekonomi yang dibawa dalam kehidupan, tidak mampu mengakomodir persoalan-persoalan mendasar dan kebutuhan manusia, dan akhirnya mengalami keruntuhan. Sistem sosialis (bisa disebut juga dengan sistem komunis) pertama kali diperkenalkan di Uni Soviet, dimana sistem ini mempunyai prinsip dasar untuk tidak mengakui adanya kepemilikan dan kebebasan individu dalam berekonomi, serta dinafikannya kehadiran pasar bebas dalam aktivitas ekonomi. Dalam sistem ini, manusia sebagai pelaku ekonomi tidak mempunyai kebebasan untuk menjalankan hak-haknya, kebebasan, kehormatan dan hak-hak manusia dikorbankan demi menegakkan nilai-nilai sosialis yang ditawarkan oleh Karl Marx. Dengan terpasungnya kebebasan dan hak-hak manusia dalam berekonomi, adalah langkah awal yang akan menggiring sistem tersebut ke ambang kehancuran, karena seperti yang telah disadari bahwa elemen itu merupakan sesuatu yang asasi dalam kehidupan manusia, dan kita tidak bisa menafikannya. Akhirnya, terdapat pergolakan dari masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini telah dikebiri, terjadi perlawanan terhadap sistem yang ada guna meraih nilai-nilai kebebasan dan kehormatan mereka sebagai sosok manusia. Sebagai makhluk, manusia merasa memiliki ‘nilai’ yang tidak bisa dijajah dan dieliminasi akan keberadaannya, terlebih mereka mempunyai dimensi lain dalam hidup, yakni kebutuhan spiritual.

Konsep sosialisme yang diterapkan di Uni Soviet, pada akhirnya mengalami perubahan seiring dengan dinamika kehidupan, setidaknya terdapat 3 langkah yang telah ditempuh yang mengindikasikan adanya pengkikisan terhadap nilai-nilai sosialisme. Ketiga persoalan dimaksud adalah sebagai berikut:
Ketika terjadi perseteruan antara kapitalis dan sosialis, terdapat bentuk-bentuk hubungan politik internasional yang bertujuan untuk meredam konflik yang ada. Terdapat upaya negara bagian Uni Soviet untuk saling membantu dan melemahkan tajamnya perselisihan di antaranya.
Terdapat perlawanan dari kaum proletar terhadap birokrasi dan sistem sentralisasi, keduanya disinyalir sebagai instrumen yang dapat merusak manajemen produksi serta distribusi pendapatan pada masyarakat, sehingga muncul persoalan ekonomi yang menumpuk. Dengan terinspirasi konsep kebebasan dalam berekonomi, masyarakat memperjuangkan hak-hak mereka demi mendapatkan kemaslahatan yang hakiki.
Berusaha untuk menghilangkan konsep pengkultusan terhadap individu tertentu yang disadari menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sosialis, selain itu, terdapat upaya untuk meruntuhkan sistem partai tunggal dalam pemerintahan. Dengan sistem tersebut, masyarakat tidak bebas untuk menyuarakan kepentingan dan kebutuhan mereka dalam birokrasi, karena mereka harus mengikuti kehendak partai bersangkutan. Sistem partai tunggal ini, memasung kebebasan dan hak-hak manusia dalam birokrasi, karena tidak terdapat keleluasaan untuk menyuarakan kepentingan. Dengan semangat nilai-nilai demokrasi, masyarakat menuntut adanya kebebasan mengutarakan pendapat, baik yang sejalan ataupun bertentangan dengan kehendak birokrasi. Dengan menjamurnya nilai-nilai demokrasi, akhirnya perjanjian Uni Soviet mengalami perpecahan dan sistem sosialis mengalami kehancuran, begitu juga yang terjadi di negara-negara Eropa Timur yang menganut sosialisme, kecuali Korea Utara dan Kuba. Dengan berakhirnya sistem sosialis dan komunis, terdapat masa transisi untuk mengkonversi sistem sosialis menjadi kapitalis sebagaimana dilakukan oleh Cina dan Vietnam.

Menurut penulis, untuk mengembangkan sistem ekonomi Islam tidak diperlukan upaya untuk mencari konseptual Islam dalam hal kegiatan ekonomi secara terperinci, seperti konsep produksi, investasi, distribusi, pertukaran, konsumsi dan kegiatan yang berhubungan dengan produksi, karena hal itu akan memeras tenaga intelektual muslim. Persoalan tersebut, kita serahkan pada sistem yang telah berlaku pada saat ini, kita tinggal mengadopsi sistem yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan menyingkirkan mekanisme yang bertentangan dengannya. Selain itu, kita juga tidak perlu untuk menyamakan atau meminjam istilah sistem ekonomi yang telah ada, dengan konsep dasar ekonomi yang kita lahirkan dari Al Qur’an, misalnya dengan mengatakan Sosialisme Islam atau Kapitalisme Islam.

Satu hal yang perlu disadari bahwa pemikiran ekonomi yang terdapat dalam Al Qur’an, merupakan konsep dasar yang tidak independen, suatu konsep yang tidak bisa ditegakkan tanpa adanya keterkaitan dan penopang dari subsistem kehidupan lainnya, baik dalam bidang politik, sosial, budaya, ataupun etika masyarakat muslim. Masing-masing elemen ini, harus saling terkait guna mewujudkan sebuah sistem kehidupan yang integratif. Pemikiran ekonomi yang terdapat dalam Al Qur’an tidak bisa dipisahkan dengan konsep-konsep Al Qur;an lainnya, karena ia bersifat closely related dengan konsep-konsep tersebut. Konsep ekonomi tidak bisa dijalankan secara parsial, namun ia harus diintegrasikan dengan nilai-nilai politik, sosial, budaya, etika dan keyakinan masyarakat yang bersumber dari Al Qur’an. Bagi suatu negara yang menjadikan Al Qur’an sebagai pijakannya, sistem ekonomi yang dibangun haruslah bersenyawa secara positif dengan dimensi kehidupan lain, adalah sebuah keniscayaan untuk menghubungkan dan membuat kaitan relasional diantara subsistem kehidupan guna mewujudkan sebuah sistem kehidupan yang holistik.

Dengan munculnya peradaban baru dalam kehidupan manusia, hal itu akan memberikan perubahan terhadap gaya hidup dan nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan, terlebih dalam bidang ekonomi. Peradaban ini akan membawa perubahan yang cukup signifikan bagi kehidupan, sehingga memacu Islam untuk bisa menghadirkan pemikiran ataupun nilai-nilai untuk mengakomodir perubahan sebagai konsekwensi atas hadirnya peradaban baru. Dalam konteks ekonomi, sistem ekonomi yang telah berkembang, akan mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat muslim, sehingga diperlukan pencerahan nilai-nilai dari perspektif Islam.

Khazanah pemikiran Islam semakin luas diperkaya dengan pengalaman empiris yang telah dilakukan oleh kedua khalifah pertama, nilai-nilai yang tercatat dalam sejarah tersebut memberikan kontribusi bagi dinamika pemikiran Islam. Tentunya, fenomena ini akan memperkaya pemikiran ekonomi yang mungkin akan diterapkan oleh negara tertentu. Apa yang telah dicatat oleh ulama, dijadikan sebagai bahan inspirasi guna mengembangkan pemikiran dan kebijakan yang mungkin akan diambil oleh komunitas tertentu seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia. Pemikiran dan kebijakan yang akan diambil oleh masing-masing negara bisa jadi berbeda antara satu dengan lainnya, perbedaan tersebut hanyalah merupakan kebijakan strategis yang disesuaikan dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat yang melatarbelakanginya, yang terpenting konsep dasarnya tidak dilupakan. Dengan adanya perbedaan kebijakan di negara maju, berkembang, atau bahkan terbelakang, akan memperkaya khazanah pemikiran Islam, baik dalam tataran teoritis ataupun aplikatif.

Menurut keyakinan penulis, dewasa ini merupakan masa team building, suatu kondisi masyarakat untuk saling bekerjasama guna mewujudkan tujuan bersama. Sudah saatnya untuk melepaskan nilai-nilai individu dan egoisme masing-masing pihak, variabel primordialisme harus ditinggalkan dan diganti dengan nilai tolong menolong dan saling menopang satu sama lain. Dalam masyarakat muslim, harus dikembangkan sebuah kesadaran untuk bersatu guna merealisasikan tujuan yang diimpikan oleh Islam. Mungkin, kita bisa mengaca pada realitas yang telah ditorehkan dalam sejarah oleh masa kekhalifahan. Khalifah Islam yang merepresentasikan bentuk pemerintahan Islam, terdiri dari berbagai macam wilayah dan negara yang mempunyai kultur yang beragam, namun hal itu bisa disatukan di bawah ‘kata khalifah’. Bendera kekhalifahan mampu menyatukan suku-suku yang berbeda serta memiliki budaya dan kebiasaan yang beragam. Seharusnnya, negara-negara Islam dewasa ini mau bersatu guna memikirkan langkah ke depan bagi kemajuan dan kejayaan Islam. Apa yang telah dicapai oleh kedua khalifah pertama dan khalifah Umar bin Abdul Aziz (Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, khalifah kelima, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam hadits: “Sesungguhnya Allah akan mengutus di setiap seratus tahun, orang yang akan meluruskan persoalan umat atas agamanya“ dan Umar bin Abdul Aziz merupakan pilihan, beliau merupakan sosok yang zuhud, wara’ dan tidak mau tertipu oleh gemerlapnya dunia) setidaknya bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam menjalankan sistem kehidupan bagi masyarakat muslim. Miniatur kehidupan yang telah dicontohkan oleh khalifah dimaksud, tentunya tidak terlepas dari dampak negatif, namun kita sebagai muslim yang cerdas harus mampu melakukan koreksi dan mengikuti nilai-nilai yang positif bagi kehidupan.

Apa yang telah dilkukn khalifah, setidaknya dapat dijadikan sebagai pendorong bagi masyarakat muslim dewasa ini guna melakukan kebangkitan untuk memperbaiki realitas yang ada. Sejarah telah menyaksikan dinamika kehidupan masyarakat muslim berikut perangkat kehidupan yang dibutuhkan, baik dari segi hukum, aturan ataupun pemikiran-pemikiran yang relevan dengan realitas yang ada. Dinamika Islam menyentuh seluruh aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, ataupun etika masyarakat, fenomena ini menunjukkan dinamisnya hukum dan aturan Islam untuk menjawab perubahan zaman. Realitas yang sekarang terjadi dalam masyarakat muslim, sudah saatnya untuk dicarikan solusi ataupun alternatif dalam perspektif Islam. Intelektual muslim harus bekerja keras untuk merekonstruksi apa yang telah dituliskan ulama terdahulu dengan melihat realitas yang ada, baik dari segi teoritis maupun praksis. Namun, satu hal yang perlu dicatat, tidak boleh keluar dari aturan dasar yang telah ditentukan oleh agama. Pembaharuan yang akan dilakukan oleh intelektual muslim harus mengikuti aturan baku yang telah ditetapkan agama, agama telah menetapkan aturan-aturan maupun instrumen yang mungkin bisa digunakan untuk melakukan pembaharuan.

Al Qur’an mungkin hanya akan menyediakan aturan global tanpa disebutkan secara terperinci, kemudian kita menggunakan hadist sebagai penjelas atau pemerinci aturan yang ada dalam Al Qur’an. Namun, jika aturan tersebut belum mendapatkan kejelasan, kita bisa menggunakan instrumen ijma’, qiyas, istihsan, masalih mursalah, dan ‘urf untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Selain itu, kita bisa menggunakan kaidah al ma’ruf ‘urfan ka al masyruthi syarthan (sesuatu yang telah menjadi kebiasaan bisa dijadikan/ dianggap sebagai syarat), al dhalurat tubihu al mahdzurat (kondisi darurat dapat memperbolehkan sesuatu yang dilarang), maa la yudraku kulluh laa yutraku kulluh (apa yang tidak bisa kita capai secara sempurna, jangan ditinggalkan semuanya) ataupun kaidah apa yang dianggap baik oleh kaum muslim, maka hal itu juga baik di hadapan Allah, dan masih banyak kaidah lainnya.

Kehidupan ekonomi merupakan elemen penting bagi sebuah negara, tidak jarang persoalan yang dihadapi negara berangkat dari persoalan ekonomi. Bahkan yang lebih ekstrim, persoalan ekonomi akan memberikan dampak bagi etika dan akhlak masyarakat suatu negara. Untuk itu, sedang saatnya bagi satu negara untuk mengadopsi sistem ekonomi yang bersifat komprehensif dan integratif bagi kehidupan. Sebuah sistem yang saling berkaitan dengan subsistem kehidupan lainnya, dan itu hanya didapatkan dalam Islam. Selanjutnya, nilai-nilai ekonomi yang telah didapatkan dari Islam, kita harmonisasikan dengan realitas perekonomian kontemporer, bagaimana nilai tersebut mampu menghadirkan solusi bagi persoalan yang muncul. Konsep ekonomi Islam ditantang untuk menjwab persoalan ekonomi kontemporer, bagaimana Islam mempunyai solusi bagi kemajuan negara-negara miskin dan terbelakang, bagaimana Islam mengatasi persoalan debt-trap yang sedang membelenggu negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju, bagaimana Islam mampu menghadirkan konsep ekonomi yang akan memberikan kemajuan yang sama bagi negara-negara Barat dan Timur, serta persoalan-persoalan mendasar lainnya yang harus dicarikan solusi dalam perspektif Islam. Intinya, sudah saatnya bagi komunitas muslim untuk bersatu guna mencari solusi bagi permasalahan ekonomi yang ada, dengan tidak meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai pijakan dalam hidup.

Incoming search terms:

  • ekonomi dalam alquran