Allah Ta’ala berfirman: “ dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “ (al Maidah: 2).

Dalam hadits Rasul saw. bersabda: “ Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya sepanjang ia mau menolong sandaranya “, perumpamaan kaum muslim dalam kecintaan dan kasih sayang mereka seperti jasad yang satu, jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh anggota badan ikut merasakan dan tidak bisa tidur “

Hal tersebut merupakan syi’ar masyarakat Islami dan asas dalam kehidupan ekonomi. Konsep ta’awun bisa diartikan dengan bertemunya setiap individu yang memiliki kemampuan dan keahlian yang berbeda, untuk bekerjasama saling membahu mencapai tujuan yang ingin diwujudkan bersama. Sebuah sistem ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup, sistem sosial yang dibentuk untuk menyebarkan ilmu diantara orang yang bergabung, dan masyarakat pada umumnya, saling mempersaudarakan satu sama lainnya dan berkorban demi kepentingan bersama. (al ta’awuniyyah fi al Islam, Murad Muhammad Ali)

Ta’awun merupakan konsep dasar yang dijadikan asas untuk mengaplikasikan teori Islam atas harta, dengan tanpa adanya ta’awun, maka teori tersebut tidak dapat diwujudkan. Dan tanpa adanya pemahaman yang benar tentang makna ta’awun dan keimanan yang mendalam, maka kehidupan masyarakat Islam tidak akan pernah terbangun, dan konsep ekonominya hanya sebatas retorika. Masyarakat muslim mempunyai syi’ar: “ dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “ (az zukhruf; 32) dalam arti, harta kekayaan bukanlah menjadi tujuan hidup, harta berfungsi sebagai fungsi pokok kehidupan dan mempunyai tugas-tugas sosial yang cukup urgen, manusia sama di hadapan Allah, dan yang membedakan adalah kadar takwa yang akan menyampaikan seorang hamba pada rahmat Allah.

Konsep ta’awun pernah dilakukan oleh Rasul, diriwayatkan, suatu hari Rasul jalan-jalan ke pasar dengan membawa uang delapan dirham. Di tengah perjalanan, Rasul bertemu dengan budak perempuan sedang menangis, kemudian Rasul bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ? “ kemudian budak itu menjawab, “ majikan saya mengutus untuk membeli sesuatu dengan uang dua drham, tapi uang tersebut sekarang hilang “, kemudian Rasul memberinya dua dirham. Selanjutnya Rasul berjalan dengan membawa uang enam dirham, dan membeli pakaian seharga empat dirham untuk dirinya dan kemudian di pakai. Dalam perjalanan pulang, Rasul bertemu dengan seorang muslim yang tua tak berpakaian seraya berkata, barang siapa memberi pakaian kepadaku, maka akan diganti Allah sebuah pakaian dari surga, kemudian Rasul mencopot pakaian yang baru dibeli dan diberikan kepada orang tersebut. selanjutnya Rasul berkeinginan kembali ke pasar dan membeli pakaian seharga dua dirham dan kemudian dipakainya, Rasul bergegas untuk pulang.

Selanjutnya Rasul bertemu dengan budak perempuan kembali, dan dalam keadaan menangis, Rasul bertanya, “ Apa yang membuatmu menangis “ kemudian dijawab, saya telah lama meninggalkan keluargaku, dan saya takut akan disiksa. Kemudian Rasul minta untuk diantarkan kepada ahlinya, setelah sampai, Rasul menyampaikan salam, namun tidak dibalas, dalam rumah tersebut tidak ada lelaki, yang ada hanya perempuan. Kemudian Rasul mengucapkan salam yang kedua, namun juga tidak dijawab, kemudian Rasul mengucapkan salam yang ketiga kalinya, lalu dijawab oleh wanita-wanita tersebut. rasul kemudian bertanya, “ apakah kalian tidak mendengar salamku ? “, “ Kami mendengarnya, namun kami ingin mendapatkan berkah salam dari Rasul “ Rasul kemudian berkata, budak kalian takut akan siksa yang akan kalian berikan, maka berikanlah sksa itu kepadaku. Wanita itu kemudian menjawab, kami telah membebaskannya karena ia telah berjalan bersama Engkau, ia merdeka karena Allah. Kemudian Nabi berpaing untuk pulang seraya berkata, saya tidak menemukan berkah yang lebih besar dari uang delapan ini, dengannya Allah amankan orang yang ketakutan, menutupi orang yang telanjang, dan memerdekakan budak, barang siapa yang mau untuk memberikan pakaian pada orang lain, maka ia akan dalam lindungan Allah.

Suatu hari Umar ra pergi berziarah ke rumah Abu Ubaidah, Umar ra melihat kehidupn Abu Ubaidah cukup menderita dan tidak ditemukan lauk di rumahnya. Kemudian Umar mengutus seseorang untuk mengambil harta guna memperbaiki kehidupan Abu Ubaid, namun Abu Ubaid menolaknya, ia membagikan harta itu kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Begitu juga yang dilakukan Umar ra dan Muadz bin Jabal, untuk membagikan harta pada orang-orang yang membutuhkan. Apakah konsep ini ditemukan dalam sistem ekonomi yang lain, apakah ada sistem ekonomi yang memerintahkan negara untuk membayar hutang-hutang orang yang bangkrut seperti yang dilakukan Islam bagi orang-orang gharim dengan harta zakat ?! Seperti yang tercermin dalam sabda Rasul, barang siapa meninggalkan hutang, maka Aku yang akan membayarnya, dan barang siapa yang meninggalkan harta warisan, maka bagi ahli warisnya. Apa yang dilakukan oleh Abu Dzar juga cukup menarik, beliau hanya mengambil gajinya untuk memenuhi kebutuhan pokok selama setahun, kemudian selebihnya diinfaq-kan di jalan Allah dan tidak disimpan.

[fusion_text]278-279)ACA JUGA[/fusion_text][one_half last=”yes” spacing=”yes” center_content=”no” hide_on_mobile=”no” background_color=”” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” background_position=”left top” hover_type=”none” link=”” border_position=”all” border_size=”5px” border_color=”#0d793f” border_style=”solid” padding=”” margin_top=”” margin_bottom=”” animation_type=”fade” animation_direction=”left” animation_speed=”1″ animation_offset=”bottom-in-view” class=”” id=””][fusion_text]

BACA JUGA :

[/fusion_text][/one_half][fusion_text]kuma
[/fusion_text]

Islam mempunyai kaidah yang luas tentang hak seseorang atas harta, orang dzimmi yang hidup dalam naungan Islam juga berhak mendapatkan, tidak membedakan letak geografis, jenis etnis ataupun warna kulit. Saling memperhatikan dan peduli terhadap kehidupan sesama, semuanya adalah saudara dalam satu iman kepada Allah. Setiap mereka berhak untuk menerima hak, bagi orang yang bertamu atau datang ke rumah kita, walaupaun berasal dari daerah lain, kita patut untuk memberikan makan atau minum karena mereka berhak dan termasuk sebagai ibnussabil. Ibnu Hazm berkata, menjamu/ menghormati tamu adalah wajib bagi orang desa, kota, ulama, orang awam selama satu hari satu malam, sampai waktu tiga hari bertamu.

Pada masa kekhalifahan Umar ra. pernah kaum Anshar melakukan perjalanan, kemudian mereka bertamu kepada orang arab, namun mereka tidak menjamunya, kemudian kaum Anshar bermaksud membelinya, namun mereka juga menolaknya, selanjutnya kaum Anshar mengambilnya dengan paksa. Kejadian tersebut dilaporkan orang arab kepada Umar, kemudian Umar ra berkata, ibnussabil lebih berhak untuk mendapatkan harta itu.

Setiap individu berhak atas kekayaan masyarakat, namun dilakukan dengan kehalusan sehingga akan terbentuk ukhuwwah dalam masyarakat, Allah berfirman: “ Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah ini hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya “ (an Nuur: 61)

Rasul kemudian berwasiat untuk membina hubungan baik dengan tetangga, Nabi selalu mendapat wasiat dari Jibril berulang-ulang, seolah-olah ia merupakan ahli waris bagi kita. Sebuah wasiat yang luas maknanya untuk membentuk sebuah masyarakt Islami yang dibangun atas nilai-nilai silaturrahim dan kasih sayang. Membina keluarga dengan penuh kecintaan, sehingga akan terbentuk masyarakat kecil yang saling membantu dalam kebaikan dan membantu saudara yang lemah. Saling membantu untuk kemanfaatan bersama, manusia pada hakikatnya merupakan umat yang satu yang diciptakan berbeda-beda guna untuk saling mengenal satu sama lainnya, Allah berfirman: “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu “ (al Hujurat: 13)

Sumber : Abdul Sami’ Al Mishri, Muqawwimat al Iqtishad al Islami

Incoming search terms:

  • bidang-bidang taawun kaum Anshar
  • konsep taawun