Dalam surat Muhammad, Allah telah menegaskan bahwa manusia diciptakan mempunyai tabiat untuk cinta terhadap harta, manusia secara naluri akan memiliki nilai-nilai untuk suka dan cinta terhadap harta.

Kecintaan manusia terhadap harta akan sulit untuk dihilangkan, kaena memang hal itu sudah menjadi karakter dasarnya. Selain itu, Al Qur’an juga memberitakan kepada manusia bahwa hidup di dunia ini hanya permainan, tempat untuk bersenang-senang, saling membanggakan diri di antara manusia, berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta dan memperbanyak anak keturunan. Di sisi lain, Al Qur’an juga mengajak manusia untuk beriman dan takwa kepada Allah, dan Allah akan memberikan pahala dan balasan atas keimanan yang dimiliki manusia.

Kecintaan manusia terhadap harta tidak bisa dihilangkan, untuk itu, perintah Allah yang berkaitan dengan harta sangat memperhatikan karakter dasar manusia. Untuk itu, Allah tidak akan mewajibkan kepada manusia untuk memperbanyak infaq di jalan kebaikan, manusia tidak akan diperintah untuk membelanjakan seluruh harta yang dimiliki di jalan Allah, kaena memang hal itu akan sulit dilakukan manusia. Allah hanya mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat atas harta yang mereka miliki, dan itu hanya beberapa persen saja. Selain itu, manfaat yang akan dirasakan karena adanya zakat, akan kembali kepada manusia juga, terutama kaum fakir dan miskin, dan juga ia masih berhak untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Jika Al Qur’an menetapkan bahwa Allah akan memerintahkan manusia untuk menginfaqkan seluruh harta yang dimiliki, maka akan muncul karakter dasar manusia, yakni sifat bakhil dan tidak mau untuk berinfaq. Karena seperti dijelaskan di atas, manusia diciptakan untuk suka dan cinta terhadap kekayaan harta. Atas sifat rahmat Allah, maka tidak diwajibkan untuk membelanjakan seluruh harta yang dimiliki di jalan Allah, namun hanya sebagiannya saja. Ketika perintah untuk berinfaq diwajibkan, maka akan terdapat dua kubu, yaitu orang yang bakhil dan orang yang dengan ikhlas mau melakukannya, hal ini dijelaskan dalam surat Muhammad ayat 38 : “ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya), dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini) “.

Berdasarkan ayat di atas, manusia yang memiliki nilai-nilai keimanan yang kuat dalam hatinya, akan dengan penuh kerelaan untuk menginfaqkan hartanya, hal itu dilakukan untuk mencapai keridlaan Allah dan kemaslahatan masyarakat. Orang-orang ini, telah dikeluarkan dari hatinya, sifat-sifat kebakhilan dan kebenciannya terhadap infaq oleh Allah. Di sisi lain, orang yang tidak memiliki keimanan yang kuat dan murni, maka akan bersikap bakhil dan tidak mau berinfaq untuk mengeluarkan hartanya, mereka adalah orang-orang yang mengharamkan pahala Allah atas diri mereka karena tidak mau untuk berinfaq demi kemaslahatan hidup masyarakat. Padahal, hakikatnya Allah tidak akan pernah butuh terhadap manusia dan hartanya, baginya seluruh kekayaan yang ada di bumi dan langit, dan manusia-lah yang akan butuh dan membutuhkan Allah. Allah mempunyai kekuasaan penuh untuk membentangkan dan mentakdirkan rizki kepada hamba-Nya, mempunyai hak untuk memberi rizki kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, kapan, dimana, dan dengan cara bagaimana Allah menghendaki. Allah mempunyai kekuatan penuh untuk menentukan orang-orang yang mau taat dan tunduk kepada-Nya, ataupun orang-orang yang membangkang dan bakhil, orang yang tidak mau untuk menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Selain itu, Allah juga mempunyai kuasa untuk mengganti kehidupan suatu kaum dengan kaum lain, menentukan kehidupan masyarakat, sehingga akan ditemukan kelompok masyarakat yang mau untuk taat dan gemar berinfaq di jalan Allah. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Muhammad : 38.

[fusion_text]278-279)ACA JUGA[/fusion_text][one_half last=”yes” spacing=”yes” center_content=”no” hide_on_mobile=”no” background_color=”” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” background_position=”left top” hover_type=”none” link=”” border_position=”all” border_size=”5px” border_color=”#0d793f” border_style=”solid” padding=”” margin_top=”” margin_bottom=”” animation_type=”fade” animation_direction=”left” animation_speed=”1″ animation_offset=”bottom-in-view” class=”” id=””][fusion_text]

BACA JUGA :

[/fusion_text][/one_half][fusion_text]kuma
[/fusion_text]

Di sisi orang-orang yang bakhil terhadap hartanya, juga terdapat orang-orang yang mau mengorbankan harta bendanya demi memenuhi kebutuhuan orang-orang fakir dan membutuhkan, orang-orang yang lebih memilih kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang hanya sementara. Orang-orang yang mempunyai nilai-nilai keimanan yang tulus dan ikhlas, dan bersedia untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai keimanan yang dimiliki. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr : 9 : “ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung “.

Dalam ayat tersebut, Al Qur’an menceritakan nilai-nilai keimanan yang dimiliki oleh kaum Anshar yang telah tinggal dan bermukim di Madinah. Keimanan tersebut telah tertanam dalam hati mereka yang ikhlas, sehingga akan muncul sikap-sikap untuk mengutamakan saudara mereka se-akidah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi mereka. Kaum Anshar merelakan harta, rumah, isteri, perdagangan, ataupun kepemilikan mereka untuk dinikmati bersama dengan Kaum Muhajirin, mereka mempersilahkan mereka untuk turut menikmai apa yang telah mereka miliki, walaupun sebenarnya mereka sangat butuh atas semuanya. “ Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin”,Kaum Anshar tidak memiliki sifat iri, dengki, ataupun hasud terhadap Kaum Muhajirin atas harta ghanimah yang mereka terima. Harta ghanimah yang diperoleh Nabi dari Bani Nadhir dibagikan seluruhnya untuk Kaum Muhajirin, dan hanya 3 orang dari Sahabat Anshar yang mendapatkannya. Kaum Anshar merelakan dengan sepenuh hati pembagian harta ghanimah yang telah dilakukan Nabi, dan tiada seorang-pun yang membicarakan keinginan mereka untuk memiliki harta tersebut. “Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)”, Kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan Kaum Muhajirin atas hartatersebut, walaupun sebenarnya terdapat keinginan dan kebutuhan bagi mereka.

Sikap itsar (lebih mengutamakan orang lain) mereka bukan berarti tidak butuh terhadap harta, namun dengan tetap adanya kefakiran dan kebutuhan, mereka lebih mengutamakan kebutuhan saudara se-akidah mereka Kaum Muhajirin daripada kepentingan pribadi mereka, dengan tujuan semata-mata untuk mencari ridla Allah. “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung “, barang siapa yang telah dipelihara dan diselamatkan Allah dari sifat bakhil, tamak, dan cinta terhadap harta dunia, pelit untuk menginfaqkan harta demi kebaikan atau hanya menggunakan harta untuk kepentingan pribadinya, mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan akan beruntung dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika nilai-nilai Islam telah tertanam dalam hati seorang mukmin, maka akan muncul nilai-nilai keimanan yang mendorong dalam bersikap, lahirlah nilai ketakwaan yang akan menjaganya dalam kehidupan, serta terdapat keikhlasan atas segala aktivitas yang dilakukan. Nilai dan sikap tersebut akan terus terpelihara demi mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di dunia serta kehidupan masyarakat, seolah-olah seorang muslim tersebut akan hidup untuk selamanya, di sisi lain, ia akan berusaha untuk beramal dengan sekuat tenaga untuk akhiratnya, seolah-olah besok akan mati. Pribadi seorang muslim seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat, seorang individu yang akan menegakkan kehidupan dalam segala aspeknya, baik kehidupan politik, ekonomi, budaya, akidah, ibadah ataupun hubungan muamalah dengan sesama manusia.

Sikap seorang muslim akan dituntun oleh nilai-nilai, norma, ataupun hukum-hukum yang telah dipesankan Allah melalui Al Qur’an, mereka akan bersikap sebagaimana petunjuk yang disampaikan Al Qur’an. Begitu juga ketika harus bersikap terhadap kehidupan dunia, sebenarnya manusia memiliki tabiat untuk mendewakan harta dunia, mensyakralkan kedudukan dan kekuasaan, ataupun sikap untuk memperturutkan hawa nafsu atas kenikmatan dunia. Namun, Al Qur’an membimbing manusia untuk memiliki sikap tegas terhadap dunia, dan memilih untuk lebih cinta dan taat terhadap aturan Allah. Sikap-sikap inilah yang telah ditunjukkan oleh Kaum Anshar, mereka lebih mengutamakan sikap itsar, saling tolong menolong, memiliki solidaritas sosial, dan rela berkorban harta benda dan diri mereka demi memepertahankan nilai-nilai akidah dan kehidupan saudara se-akidah.

Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang mendewakan materi, mereka sibuk untuk mengumpulkan dan menyimpannya demi untuk kepentingan pribadi mereka. Harta yang mereka miliki digunakan untuk memperkuat kedudukan dabn kekuasaan mereka selama hidup di dunia, dan mereka mempunyai anggapan bahwa mereka akan hidup kekal selamanya dengan harta yang dimiliki, harta itu akan mempertahankan hidup mereka dan kekuasaan di dunia. Bagi orang-orang ini, Allah telah mempersiapkan siksa dan ancaman yang pedih dalam kehidupan setelah mereka mati, Allah berfirman: “Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama)” (Al Ma’arij:15-17). Dalam ayat ini, Allah memberikan ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang rajin mengumpulkan dan menyimpan harta, serta tidak mau untuk menunaikan hak-hak Allah, kaum fakir dan miskin dalam bentuk infaq. Ancaman ini akan diberikan kepada orang-orang yang bakhil terhadap harta, hidupnya hanya untuk mengumpulkan harta tanpa pernah mau untuk berinfaq di jalan kebaikan, dan tidak dikeluarkan hak Allah untuk diinfaqkan kepada kaum fakir miskin. Hasan Al Bashri berkata, ia pernah membaca ancaman Allah atas orang-orang yang mengumpulkan harta, baik dengan cara yang halal atau haram, bahwa mereka nantinya di akhirat akan menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kiri mereka, bukan dengan tangan kanan. Hal ini-lah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya: “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku dariku. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (Al Haaqqah:24-32).

Al Qur’an juga menerangkan bahwa orang yang mengumpulkan dan menyimpan harta yang banyak, cenderung memiliki sifat untuk ingin menguasai sesuatu, kepemilikan harta akan mendorong seseorang untuk mempengaruhi ataupun menguasai orang lain, dan kebanyakan, orang-orang yang berkuasa dalam masyarakat adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlimpah. Dalam surat Al Humazah, Allah mencela orang-orang yang sibuk untuk mengumpulkan dan menyimpan harta, menumpuk harta kekayaan seolah-olah harta itu akan mengekalkan kehidupan mereka di dunia, mereka beranggapan bahwa harta itu akan membuatnya kekal di dunia dan kekal untuk dikenang orang setelah meninggal dunia. Tapi sebenarnya, sikap untuk cinta mengumpulkan dan menyimpan harta, serta tidak mau untuk dibelanjakan di jalan kebaikan atau kewajiban zakat, bukanlah sikap seorang muslim sejati, seorang muslim yang tahu bahwa rizkinya berada dalam kekuasaan Allah, akan berkurang dan bertambah sesuai dengan kehendak Allah. Seorang muslim sejati akan menginfaqkan harta yang dimiliki di jalan Allah, kebaikan, ataupun kemaslahatan umum yang telah diwajibkan oleh Allah, selain itu, mereka juga akan rajin untik memberikan sedekah demi kebaikan dan kemaslahatan hidup masyarakat. Berbeda dengan orang-orang yang sibuk mendewakan materi, mereka akan mengumpat, mencela, dan memperturutkan hawa nafsu mereka untuk mengumpulkan harta. Tidak terbersitpun dalam hati mereka untuk menginfaqkan harta mereka demi kemaslahatan hidup masyarakat, yang ada dalam hati mereka adalah bagaimana ia mampu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Harta yang mereka miliki tak pernah tersentuh sekalipun atas fungsinya dalam kehidupan social, harta tidak pernah dibelanjakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat. Allah berfirman: “Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke Huthamah, dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (Al Humazah:1-9).

Namun di sisi lain, Al Qur’an juga menceritakan tentang tabiat orang muslim sejati, yakni orang-orang yang memiliki sifat untuk perhatian dan menaruh simpati terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Mereka merelakan sebagain hartanya untuk diberikan orang-orang yang membutuhkan dalam masyarakat, Allah berfirman: “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (Al Ma’arij:22-25). Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan rahmat Allah, sehingga tergerak untuk memberikan sedekah demi kemaslahaan saudaranya sesama muslim, yakni orang-orang fakir miskin dan membutuhkan. Mereka ingin berbagi rasa atas kenikmatan yan mereka terima, membangun sikap saling tolong menolong peduli terhadap orang lain memelihara solidaritas sosial, ingin mewujudkan distribusi harta kekayaan secara adil dalam masyarakat, mencukupi kebutuhan dasar masyarakat, sehingga akan tercipta sebuah kemaslahatan dan kesejahteraan. Dengan adanya sikap tersebut, maka akan memperkecil kesenjangan sosial di antara masyarakat, mereka akan memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif sama dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Allah memerintahkan kepada seorang muslim untuk tidak menghardik atau mengeluarkan kata kasar terhadap orang yang meminta-minta, namun kita harus berkata secara halus. Kata-kata yang halus dan sopan, serta pemberi ampun merupakan sikap yang lebih baik dari orang yang memberikan sedekah tapi diikuti dengan celaan dan hinaan, krena hal itu akan melukai hati seorang peminta. Terkadang, kata-kata yang sopan dan halus, lebih bermakna dan menyentuh hati seorang peminta daripada nilai sedekah secara fisik itu sendiri. Seorang manusia akan diberi kemudahan oleh Allah untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah diciptakan untuknya, seorang muslim yang mau untuk memberikan dan mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin di jalan yangbaik, maka Allah memberikan kemudahan baginya untuk mendapatkan kebaikan dalam mengarungi kehidupan di dunia, sehingga mereka akan menjadi orang yang bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dan begitu juga sebaliknya, orang yang bakhil dan tidak mau untuk mensedekahkan hartanya dan tidak taat terhadap Allah, maka Allah akan memberikan kesulitan bagi kehidupannya. Mereka tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, dan akan menjadi orang yang celaka, baik di dunia ataupun akhirat.

Sesungguhnya, nilai-nilai yang diterima Allah bukanlah nominal harta, akan tetapi nilai-nilai ketakwaan, keikhlasan dalam beragama, mempunyai dedikasi dalam bekerja di dunia untuk memakmurkan kehidupan dunia, serta demi kehidupan akhirat. Harta bukanlah standar nilai yang tepat untuk menilai keutamaan manusia, karena kemuliaan di sisi Allah hanyalah dengan nilai-nilai ketakwaan yang mereka miliki. Harta tidak akan berarti bagi pemiliknya setelah ia meninggal, ia akan menjadi abu dan tiada arti. Bagi orang-orang yang bakhil yang merasa tidak butuh terhadap Allah, selalu berkata dusta, maka ia akan menjadi orang yang celaka, dan sebaliknya, bagi orang yang bertakwa, maka ia akan menuai kebahagiaan yang hakiki, di dunia dan akhirat. Allah berfirman: “yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridlaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (Al Lail:18-21).

Incoming search terms:

  • berlomba lomba mengumpulkan harta
  • tabiat manusia pada harta